Tugas dan Fungsi Waka Sarana dan Prasarana MTs. Nurul Huda Suci Sugio Lamongan

Tugas dan Fungsi Waka Sarana dan Prasarana 
MTs. Nurul Huda Suci 





A.   Analisis Data
Berikut ini disajikan analisis data penelitian yang berkaitan dengan upaya waka sarpras dalam mengembangkan pengelolaan fasilitas pendidikan di MTs. Nurul Huda Suci. Secara rinci hasil temuan penelitian di lapangan diperoleh melalui instrumen penelitian yang berupa hasil wawancara terhadapKepala Sekolah, WakasekBidang Sarana dan Prasarana, Tata Usaha Bidang Sarana dan Prasarana, Guru Mata Pelajaran dan Siswa-Siswi.
1.  Tugas dan Fungsi Waka Sarana dan Prasarana MTs. Nurul Huda Suci
MTs. Nurul Huda Suci merupakan salah satu sekolah yang berada di daerah Kec. Sugio Kab. Lamongan, yang dipimpin oleh Bapak Atekan, S.Pd.I. Waka sarpras sebagai seseorang yang diberikan amanah dan tanggung jawab untuk memimpin dan Bapak Muslih, M.Pd.I sebagai waka Sarpras yang membantu mengelola proses pendidikan di Madrasah mempunyai tugas yang sangat beragam. Agar madrasah dapat bermutu maka sangat dibutuhkan waka sarpras yang mampu menjalankan tugasnya dengan baik. Beragam dan besarnya tanggung jawab yang diemban oleh seorang waka sarpras dapat dilihat dari tugas dan fungsinya dalam menjalankan tugas-tugasnya
. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh  Bapak  Atekan Kepala MTs. Nurul Huda Suci bahwa:
“Tugas waka sarpras secara umum adalah mengelola secara keseluruhan sarana dan prasarana lembaga pendidikan formal dalam hal ini madrasah. Pengelolaan ini mencakup standar pendidikan nasional. Kalau Fungsinya sebagai manajer, supervisor, edukator, konselor. Secara umum waka sarpras berfungsi sebagai penanggung jawab atas semua inventaris di lembaga ini mulai dari perencanaan sampai dengan evaluasi dan pelaporan”.[1]
Lebih lanjut Beliau mengatakan bahwa ada banyak hal yang harus dimiliki secara pasti oleh waka sarpras baik dari segi dari sikap, kualifikasi, maupun kompetensi apabila ingin lembaga pendidikan ini berjalan dengan baik dan lebih baik lagi ke depannya. Hanya saja menurut beliau untuk di MTs. Nurul Huda Suci ini, seorang Waka sarpras penting mempunyai kesungguhan bekerja sepenuh hati, fokus dan kuat dalam berkomunikasi secara verbal dengan para wakamad, TU, terlebih kepada guru. Selain itu, Waka sarpras juga harus konsisten denganketeladanan yang baik dalam segala hal, khususnya dalam menjalankan tata tertib yang mengikat dirinya dan guru secara umumnya.
2.  Kinerja Waka Sarpras MTs. Nurul Huda Suci
Setiap waka sarpras pasti memiliki gaya kinerja yang berbeda dalam mengembangkan sarana dan prasarana untuk meningkatkan mutu pembelajaran. Begitupun halnya dengan waka sarpras MTs. Nurul Huda Suci yaitu Bapak Muslih, M.Pd.I yang bekerja berdasarkan target dan tujuan yang jelas serta sesuai dengan prosedur yang berlaku.
Terkait dengan waka sarpras MTs. Nurul Huda Suci, Bapak Muslih, M.Pd.I mengatakan bahwa:
“Secara teori, saya tidak mengiblat ke salah satu gaya kinerja tertentu. Saya menajalnkan tugas dengan target dan tujuan yang jelas yang sudah diamanahkan kepada saya. Saya bekerja lebih senang berdasarkan prosedur, saya suka bermusyawarah meminta pendapat waka-waka yang lainnya, guru, atau tata usaha untuk menyelesaikan permasalahan yang kami hadapi di lapangan. Hanya saja saya paham bahwa segala keputusan pada akhirnya harus saya sendiri yang memutuskan dan saya yang bertanggungjawab atas berjalannya keputusan itu di lapangan”.[2]
Gaya kinerja waka sarpras ini dipandang oleh kepala madrasah, Tata Usaha, dan beberapa guru efektif digunakan oleh waka sarpras di MTs. Nurul Huda Suci. Hal ini sejalan dengan yang dikemukakan oleh salah satu guru di sekolah yaitu Bapak Ainur Rofik wakil waka kepala bidang kurikulum yang juga guru mata pelajaran pendidikan agama islam yang berpendapat bahwa:
Beliau adalah sosok Waka sarpras yang senang akan perubahan demi kemajuan guru dan murid-muridnya, Bersikap proaktif dan mempunyai komunikasi yang baik, Memiliki kemampuan manajemen sekolah yang cukup baik, delegatif dan konsultatif dan Insya Allah Efektif karena pasti Waka sarpras memiliki manajemen yang sangat baik untuk mengelola inventaris sekolah ini”.[3]
Senada dengan pendapat Ibu Siti Hajar guru mata pelajaran IPA tentang gaya kinerja kepala madrasah. Beliau mengatakan:
Sosok Waka sarprasNurul Huda khususnya MTs adalah seorang Waka sarprasyang memiliki kemampuan manajemen sekolah dan memiliki sikap delegatif, partisipatif, dan konsultatif. Gaya kinerja beliau Insya Allah efektif, karena pada dasarnya setiap Waka sarpras harus memiliki kemampuan dalam manajemen sekolah”.[4]
Meskipun rata-rata mengatakan bahwa waka sarpras mempunyai kemampuan manajemen yang baik, delegatif, dan konsultatif. Tetapi terdapat jawaban yang cukup berbeda diungkapkan oleh Maf’ula Zuhro guru mata pelajaran SKI mengenai gaya kinerja waka sarpras. Beliau mengatakan bahwa:
Beliau adalah orang yang Bertanggungjawab. tegas, memiliki wawasan manajemen sekolah, demokratis, dan kharismatik. Gaya kinerja nya analitis, karena ketika mengambil keputusan selalu berdasarkan proses analisis secara logika dari informasi yang ada.
Sejalan dengan pendapat Bapak Kusyairi guru olahraga yang mengemukakan bahwa: “Waka sarpras orangnya tegas dan komitmen. Gaya kinerja nya Efektif diterapkan di sekolah kami”.[5]
Pendapat lain dikemukakan oleh Ibu Siti Muawiyah bidang Tata Usaha di MTs. Nurul Huda Suci bahwa: “Waka sarpras menurut saya adalah sosok yang tegas tapi bersahabat tidak merasa canggung dan dapat bekerja dengan nyaman dan gaya kinerja beliau efektif digunakan di sekolah ini”.[6]
Dari Hasil observasi yang penulis lakukan di MTs. Nurul Huda Suci jika dilihat dari interaksi dan komunikasi dengan, guru, staff, dan siswa, Beliau adalah orang yang ramah, tegas, terbuka pemikirannya, penuh perhatian mempertimbangkan pendapat waka yang lainnya, selalu bekerja dengan mengutamakan keteladanan dan kesesuaian dengan prosedur yang berlaku, serta bertanggungjawab terhadap jabatan yang diembannya.[7]
Selain itu, siswa dan siswi di MTs. Nurul Huda Suci juga memberikan pendapat mereka mengenai kinerja waka sarpras yang salah satunya dikemukakan oleh Shofiyatul siswa yang juga Wakil Ketua Kelas VIII bahwa: ”Waka sarpras disini itu baik, tegas, suka menjaga sarana dan prasarana serta kebersihan dan kalau ada sampah sedikit saja pasti langsung disuruh bersihkan”.[8]
Gaya kinerja waka Sarpras MTs. Nurul Huda Suci ini juga diterapkan dalam mekanisme pengambilan keputusan waka sarpras yang terkait dengan pengembangan sarana dan prasarana untuk meningkatkan mutu pembelajaran di MTs. Nurul Huda Suci antara lain:
a.        Waka sarpras menganalisa dan mengamati masalah di lingkungan madrasah secara langsung baik melalui keliling lingkungan madrasah ataupun menanyakan kepada guru dan karyawan mengenai kendala- kendala yang mereka alami.
b.        Dari hasil pengamatan dan analisa itu, selanjutnya akan didiskusikan dengan petugas apakah itu wakamad, TU atau guru mengenai segala sesuatunya yang berkenaan dengan situasi kondisi tersebut sekaligus berkenaan dengan analisa waka sarpras sebelum mengambil suatu keputusan.
c.        Keputusan akhir diputuskan sendiri oleh Waka sarpras dengan persetujuan kepala madrasah mempertimbangkan pendapat dan hasil analisa beliau sendiri .
d.        Pada situasi dan kondisi yang mendesak, waka sarpras akan memutuskan segala sesuatunya sendiri dengan cepat dan berdiskusi lagi dengan kepala madrasah.
e.        Waka sarpras akan mengawasi dan bertanggungjawab atas berjalannya keputusan yang telah beliau buat.12
3.  Menyusun Rencana Kebutuhan MTs. Nurul Huda Suci
Langkah selanjutnya setelah keputusan kepala madrasah  waka sarpras melakukan perencanaan pengadaan sarana dan prasarana adalah Menyusun rencana kebutuhan sekolah. Dalam hal ini, Waka sarpras Tsanawiyah Nurul Huda juga melibatkan, Tata Usaha bidang Sarana dana Prasarana selaku pelaksana, Guru Mata Pelajaran dan Siswa/I selaku Pengguna/Pemakai dalam menyusun rencana kebutuhan terkait sarana dan prasarana yang perlu diadakan, diperbaiki, ditambah, ataupun dipelihara untuk menunjang mutu pembelajaran di Madrasah.
Terkait Keterlibatan waka sarana dan prasarana dalam Penyusunan Rencana Kebutuhan sarana dan prasarana ini, Bapak Atekan Kepala MTs. Nurul Huda Suci mengatakan:
“… Dengan mensosialisasikan situasi dan kondisi sarpras madrasah selama tahun ini kepada seluruh warga sekaligus rencana-rencana pengembangan sarpras yang akan dilakukan madrasah. saya melibatkan mereka dalam rapat rutin sebelum tahun ajaran baru dimulai dan didalam rapat tersebut semua yang ada dalam ruangan tersebut memiliki hak untuk berbicara terkait kendala atau masalah sarpras yang mereka alami sendiri atau temukan selama tahun ajaran ini …”.[9]
Pernyataan ini didukung dengan adanya data dokumen berupa hasil rapat evaluasi dan rencana bidang sarana dan prasarana yang rutin dilakukan sebelum tahun ajaran baru dimulai. Dari data dokumen hasil rapat evaluasi tahun ajaran 2017-2018 diketahui bahwa kondisi cat tembok di berbagai ruang sudah kotor dan perlu dicat ulang dan papan tulis di dalam kelas sebagian sudah rusak dan harus diganti. Untuk menyelesaikan masalah ini maka rencana program bidang sarana dan prasarana tahun ajaran 2017-2018 yaitu Merehab Kelas yang salah satunya adalah pengecatan dinding yang kotor dan melengkapi standar sarpras ruang kelas yang salah satunya adalah pengadaan papan tulis baru. Untuk data yang lebih lengkap mengenai data hasil notulen rapat evaluasi dan rencana program sarana dan prasarana dapat dilihat dihalaman lampiran.[10]
Hal ini sejalan dengan yang dikemukakan oleh salah satu Guru di sekolah yaitu Bapak Nurul Yakin guru mata pelajaran TIK terkait keterlibatan bawahan dalam menyusun rencana kebutuhan sarana dan prasarana. Beliau berpendapat bahwa: Ya, beliau selalu melibatkan rekan guru dan mempertimbangkan saran/masukan dari teman guru dalam pengembangan sarana dan prasarana. Jika ada masalah terkait sarpras biasanya beliau berdiskusi dengan saya secara individual maupun melalui rapat mingguan yang ada di Madrasah sebelum membuat keputusan”.[11]
Meskipun rata-rata mengatakan bahwa Kepala MTs. Nurul Huda Suci selalu melibatkan semua pihak terutama waka sarpras yang terkait dalam menyusun rencana kebutuhan sarana dan prasarana. Tetapi terdapat jawaban yang sedikit berbeda diungkapkan oleh Ibu Maf’ula Zuhro guru mata pelajaran SKI yang mengatakan bahwa: “Ya, karena kepala madrasah dan Waka sarpras sangat terbuka pada informasi, kritik, dan saran sehingga selalu mempertimbangkan pendapat dari guru dalam pengembangan sarana dan prasarana”.[12]
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kepala MTs. Nurul Huda Suci serta waka sarpras selalu melibatkan waka-waka lainnya dalam menyusun rencana kebutuhan sarana dan prasarana khususnya guru melalui rapat evaluasi rutin sebelum tahun ajaran mulai yang diikuti oleh wakasek bidang sarana dan prasarana, TU bidang sarana dan prasarana, dan guru mata pelajaran serta hasilnya akan dijadikan sebagai pedoman dalam menyusun rencana program pengembangan sarana dan prasarana selama satu tahun ajaran ke depan. Selain itu, waka sarpras juga memberikan kesempatan bagi guru ataupun staff untuk mengajukan pengadaan media atau alat pembelajaran yang mereka butuhkan dalam rangka meningkatkan kinerja mereka di madrasah pada pertengahan tahun ajaran jika mereka memang membutuhkannya. Berikutnya, Kepala Madrasah dan Waka sarpras akan mempertimbangkan apakah permintaannya dapat diproses atau tidak dengan m elihat kondisi keuangan madrasah, melihat urgensi kebutuhan alat/media tersebut bagi staf/guru yang mengajukannya dan prioritas kebutuhan sarana dan prasarana madrasah. Jika nanti permintaan guru atau staf disetujui, waka sarpras akan menuntut peningkatan hasil kinerja mereka dengan adanya perubahan atau perbedaan yang positif dari sebelum dan sesudah mereka menggunakkan media atau alat yang telah mereka ajukan sehingga pengadaan alat atau media yang disetujui oleh madrasah tidak menjadi sia-sia dan memberikan manfaat nyata bagi sekolah dalam rangka peningkatan kinerja dan mutu madrasah.
Hal ini sesuai dengan pernyataan yang dikemukakan oleh Bapak Muslih waka sarpras MTs. Nurul Huda Suci bahwa:
“… Saya tidak pernah mempersulit guru yang membutuhkan media baik itu buku referensi maupun VCD-VCD pelajaran, saya hanya mengonfirmasi kepada mereka apakah mereka benar-benar membutuhkannya, kapan rencananya media tersebut akan digunakan, bagaimana cara pembeliannya apakah mereka yang beli sendiri lalu kuitansinya dilaporkan kepada pihak bendahara madrasah ataukah dari bendahara madrasah bersama guru tersebut yang beli media tersebut. Tetapi saya tetap mengawasi benar tidak mereka butuh itu kemudian lihat kemungkinan harganya jika masih bisa dipenuhi maka saya akan setujui permintaan tersebut…
Selain itu, biasanya waka sarpras melakukan kunjungan kelas dan berkeliling ke lingkungan madrasah untuk menguatkan mengenai sarpras yang dibutuhkan madrasah dari hasil laporan waka yang lain, guru, atau TU.
Hal ini sejalan dengan pendapat M. Khoirul Anam, Anam `mengatakan: “Kadang-kadang, biasanya mengecek keadaan kelas. Ada gurunya atau tidak, bersih atau tidak. Kalau kotor biasanya suruh bersih-bersih dahulu baru bisa belajar jadi belajarnya agak telat”.
Senada dengan pendapat yang dikemukakan oleh Shofiyatul siswi yang juga Wakil Ketua Kelas VIII bahwa “Terkadang dan biasanya mendadak. Biasanya waka sarprasmemeriksa keadaan kelas ada gurunya atau tidak, mengecek kelas bersih kalau kelasnya ga bersih kita suruh bersihin kelas dahulu baru bisa belajar”.
Pendapat lain dikemukakan oleh Fifit R. siswi sekaligus Ketua Kelas IX bahwa: “Terkadang, itu biasanya sekedar ngontrol-ngontrol saja dan tidak tentu waktunya lebih sering ustad-ustad yang sudah ditugaskan yang mengontrol ke kelas”.
Pernyataan siswa/i ini di dukung dengan adanya data dokumentasi berupa Laporan Program Kerja MTs. Nurul Huda Suci tahun ajaran 2017-2018 yang menunjukan bahwa Kepala MTs. Nurul Huda Suci telah melakukan kun Jones jungan kelas melalui kegiatan mengontol kebersihan madrasah yang dilakukan rutin setiap satu bulan minimal sekali dari bulan Juli hingga Agustus 2016 ini.
Uraian di atas terkait penyusunan rencana kebutuhan sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh (1969) menjelaskan bahwa perencanaan pengadaan perlengkapan pendidikan di sekolah harus diawali dengan analisis jenis pengalaman pendidikan yang diprogramkan di sekolah. Analisis tersebut menurut Sukarna (1987) yang dikutip oleh Ibrahim Bafadal adalah sebagai berikut:
a.        Menampung semua usulan pengadaan perlengkapan sekolah yang diajukan oleh setiap unit kerja dan/atau menginventarisasi kekurangan perlengkapan sekolah.
b.        Menyusun rencana kebutuhan perlengkapan sekolah untuk periode tertentu, misalnya untuk satu triwulan atau satu ajaran.
c.        Memadukan rencana kebutuhan yang telah disusun dengan perlengkapan yang tersedia sebelumnya.
d.        Memadukan rencana kebutuhan dengan dana atau anggaran sekolah yang tersedia.
e.        Memadukan rencana (daftar) kebutuhan perlengkapan yang urgen dengan dana atau anggaran yang tersedia. Dengan demikian perlu diadakan seleksi lagi dengan melihat skala prioritas.
f.         Penetapan rencana pengadaan akhir.[13]
Dilihat dari kesesuaian antara teori, hasil wawancara dan studi dokumen mengenai penyusunan kebutuhan sarana dan prasarana di MTs. Nurul Huda Suci dapat dikatakan sudah baik karena waka sarpras selalu berusaha untuk melibatkan bawahannya terutama guru sebagai pengguna karena merekalah yang paling tahu apa yang dibutuhkan untuk meningkatkan kinerja mereka. Akan tetapi, alangkah lebih baiknya jika semua guru turut hadir dan berpartisipasi aktif dalam rapat rutin sebelum tahun ajaran baru agar semua aspirasi mereka terkait pengembangan sarana dan prasarana dapat tersampaikan dengan baik. Selain itu, guru juga harus lebih aktif dalam mengajukan segala media atau alat pelajaran yang mereka butuhkan. Sehingga, waka sarpras dapat menyesuaikan media atau alat yang akan dibeli dengan kebutuhan guru-guru tersebut. Khususnya pada pengadaan buku karena waka sarpras biasanya hanya melakukan pengadaan buku secara umum untuk menambah koleksi buku di perpustakaan bukan buku sumber referensi guru. Diharapkan untuk buku sumber referensi dalam menunjang proses pembelajaraan, guru sendirilah yang aktif untuk mendiskusikannya dengan waka sarpras terkait kebutuhan pengadaan buku referensi tersebut.



[1] Hasil Wawancara bersama Bapak Atekan Kepala MTs. Nurul Huda Suci  pada hari Minggu, 16 Maret 2018
[2] Hasil Wawancara bersama Bapak Muslih waka sarpras  MTs. Nurul Huda Suci  pada hari Kamis, 15 Maret 2018
[3] Hasil Wawancara bersama Bapak Ainur Rofik MTs. Nurul Huda Suci  pada hari Kamis, 15 Maret 2018
[4]Hasil Wawancara bersama Ibu Maf’ula Zuhro pada hari Kamis, 15 Maret 2018
[5]Hasil Wawancara bersamaBapak Kusyairi  pada hari Kamis, 15 Maret 2018
[6]Hasil Wawancara bersamaIbu Siti Muawiyah pada hari Kamis, 15 Maret 2018
[7]Hasil Observasi tidak terstrukur mengenai gaya kinerja waka sarpras pada tanggal 04 s/d 30 Maret 2018.
[8]Hasil Wawancara bersamaShofiyatul Siswi Kelas VIII pada hari Kamis, 15 Maret 2018
[9] Hasil Wawancara bersama Bapak Atekan Kepala MTs. Nurul Huda Suci pada hari Kamis, 16 Maret 2018.
[10] Hasil Notulen Rapat Madrasah, Evaluasi Bidang Sarana Prasarana Tahun 2017-2018 dan Rencana Program Bidang Sarana dan Prasarana pada tanggal 01 April 2018.
[11]Hasil Wawancara bersama Bapak Nurul Yakin pada Tanggal, 01 April 2018.
[12]Hasil Wawancara bersama Ibu Maf;ula Zuhro pada Tanggal, 01 April 2018.
[13] Ibrahim Bafadal, Manajemen Perlengkapan Sekolah, (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2004), Cet. 2, h. 29.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

CERPEN JUDUL "ULANG TAHUN BUAT IBU"

Pengelolaan Sarana dan prasarana pendidikan

Pengembangan sarana dan prasarana pendidikan MTS NURUL HUDA SUCI SUGIO LAMONGAN