Sarpras Dalam Mengembangkan Pengelolahan Fasilitas Pendidikan
MTS NURUL HUDA SUCI LAMONGAN
A. Latar Belakang Masalah
Sarana dan Prasarana sekolah merupakan salah satu faktor penunjang dalam pencapaian keberhasilan proses belajar mengajar di sekolah. Tentunya hal tersebut dapat dicapai apabila ketersedian sarana dan prasarana yang memadai disertai dengan pengelolaan secara optimal.
Seiring dengan diberlakukannya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan atau yang lebih dikenal dengan istilah KTSP dimana penerapan desentralisasi pengambilan keputusan, memberikan hak otonomi penuh terhadap setiap tingkat satuan pendidikan, untuk mengoptimalkan penyedian, pendayagunaan, perawatan dan pengendalian sarana dan prasarana pendidikan. Sekolah dituntut untuk memiliki kemandirian untuk mengatur dan mengurus kebutuhan sekolah menurut kebutuhan berdasarkan aspirasi dan partisipasi warga sekolah dengan tetap mengacu pada peraturan dan perundang undangan pendidikan nasional yang berlaku.
Sarana dan prasarana pendidikan juga menjadi salah satu tolak ukur dari mutu sekolah. Tetapi fakta dilapangan banyak ditemukan sarana dan prasarana yang tidak dioptimalkan dan dikelola dengan baik untuk itu diperlukan pemahaman dan pengaplikasian manajemen sarana dan prasarana pendidikan persekolahan berbasis sekolah. Bagi pengambil kebijakan di sekolah pemahaman tentang sarana dan prasarana akan membantu memperluas wawasan tentang bagaimana ia dapat berperan dalam merencanakan, menggunakan dan mengevaluasi sarana dan prasarana yang ada sehingga dapat dimanfaatkan dengan optimal guna mencapai tujuan pendidikan.
Namun, pada realitanya sekolah masih mengalami beberapa kendala dalam mengembangkan pengelolahan fasilitas pendidikan. Kendala-kendala dalam pengembangan pengelolahan fasilitas antara lain: keterbatasan biaya, kelebihan pengelolahan fasilitas yang sebenarnya tidak urgent dibutuhkan sekolah, ketersediaan jumlah pengelolahan fasilitas pendidikan dalam menunjang pembelajaran tidak sebanding dengan jumlah siswa dan guru di sekolah tersebut serta tersedianya pengelolahan fasilitas tetapi tidak sesuai dengan kebutuhan peserta didik sehingga pengelolahan fasilitas tersebut hanya tersimpan di dalam gudang dan lama kelamaan menjadi rusak sebelum digunakan untuk menunjang kegiatan pembelajaran di Sekolah.
Masalah atau kendala ini dapat terjadi karena kurangnya kesadaran seluruh komponen yang ada di Sekolah mengenai pentingnya pengembangan pengelolahan fasilitas pendidikan secara tepat, khususnya waka sarpras. Pada kenyataannya, belum banyak Waka sarpras yang mampu mengelola pengelolahan fasilitas pendidikan secara tepat. Padahal, salah satu indikator yang paling mudah diukur untuk mengetahui suatu sekolah itu bermutu atau tidak, dapat dilihat dari kelengkapan pengelolahan fasilitas pendidikannya dalam menunjang proses pembelajaran di sekolah. Semakin baik dan lengkap pengelolahan fasilitas pendidikan yang terdapat di suatu sekolah maka persepsi masyarakat terhadap mutu sekolah tersebut juga akan semakin baik.
Dengan diberlakukannya desentralisasi pendidikan berarti pemerintah memberikan kesempatan kepada sekolah untuk berinisiatif dan berkarya sesuai dengan kemampuan lembaga pendidikan atau sekolah masing-masing termasuk dalam pengembangan pengelolahan fasilitas. Dengan adanya kebijakan ini diharapkan sekolah dapat mengembangkan segala potensi yang dimiliki sekolahnya dengan sebaik mungkin dalam rangka usaha memajukan pendidikan di Indonesia, karena yang paling tahu kekurangan, kelebihan, dan kebutuhan suatu sekolah hanyalah sekolah itu sendiri. Jika pengelolahan fasilitas sekolah dikelola oleh orang yang mempunyai kemampuan untuk mengelola pengelolahan fasilitas secara tepat maka kegiatan pembelajaran di sekolah akan berlangsung secara optimal karena adanya pengelolahan fasilitas yang mendukung pembelajaran di sekolah tersebut. Selain itu, diperlukan adanya partisipasi seluruh warga sekolah dalam pengembangan pengelolahan fasilitas yang akan diadakan atau ditambahkan jumlahnya agar pengembangan ini tidak sia-sia dan sesuai dengan kebutuhan pemakainya baik guru, siswa, ataupun staf di Sekolah tersebut.
Waka sarpras sebagai seorang Manajer sarpras harus mempunyai upaya dalam mengembangkan pengelolahan fasilitas pendidikan. Beliau harus mempunyai kemampuan dasar dalam menyusun analisis kebutuhan dan perencanaan pengelolahan fasilitas pendidikan sehingga adanya kesesuaian antara kebutuhan sekolah dengan pengelolahan fasilitas yang ingin ditambahkan. Selain itu, peran Waka sarpras dalam mengikut sertakan guru dan siswa dalam perencanaan pengelolahan fasilitas pendidikan juga sangat dibutuhkan karena pengelolahan fasilitas ini nantinya yang akan menunjang aktivitas mereka selama berada di lingkungan sekolah. Jadi, upaya Waka sarpras dalam melibatkan baik secara langsung maupun tidak langsung pihak guru dan siswanya akan mempengaruhi tingkat keberhasilan pengembangan pengelolahan fasilitas di suatu sekolah.[1]
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai “Upaya Wakil Kepala Sarana dan Prasarana Dalam Mengembangkan Pengelolahan Fasilitas Pendidikan Di MTs. Nurul Huda Suci Sugio Lamongan’’
.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut diatas, maka dapat dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut :
1. Bagainama Wakil Kepala Sarpras Dalam Mengembangkan Pengelolahan Fasilitas Pendidikan Di MTs. Nurul Huda Suci Sugio Lamongan?
2. Apa Bentuk-bentuk Upaya Wakil Kepala Sarpras Dalam Mengembangkan Pengelolahan Fasilitas Pendidikan Di MTs. Nurul Huda Suci Sugio Lamongan?
C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang ingin penulis capai dalam penulisan skripsi ini adalah:
1. Untuk mendiskripsikan Upaya Wakil Kepala Sarpras Dalam Mengembangkan Pengelolahan Fasilitas Pendidikan Di MTs. Nurul Huda Suci Sugio Lamongan.
2. Untuk mendiskripsikan Perkembangan Pengelolahan Fasilitas Pendidikan Di MTs. Nurul Huda Suci Sugio Lamongan.
D. Manfaat Penelitian
Adapun harapan dari penulis semoga dari penelitian ini Bermanfaat bagi :
1. Manfaat Akademis: Hasil Penelitian diharapkan dapat menambah pengetahuan dan pemahaman penulis tentang standar kemampuan manajerial yang harus dimiliki oleh Waka sarpras, kontribusi kemampuan manajerial tersebut dalam mengembangkan pengelolahan fasilitas pendidikan, serta pengaruh pengelolahan fasilitas terhadap mutu pembelajaran di sekolah.
2. Manfaat umum: hasil penelitian ini diharapkan menjadi acuan, evaluasi serta menambah paradigma baru bagi Sekolah dalam upaya mengembangkan pengelolahan fasilitas pendidikan dengan memanfaatkan keterlibatan seluruh komponen yang ada di sekolah, khususnya Waka sarpras yang merupakan seorang manajer dalam upaya pengembangan pengelolahan fasilitas pendidikan ini sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai sesuai dengan kriteria yang diharapkan.
3. Manfaat untuk pembaca: sebagai salah satu sumber untuk memperkaya pemahaman para pelaksana di lapangan. Khususnya Waka sarpras, tenaga pendidik dan kependidikan yang terlibat langsung maupun tidak langsung dalam upaya pengembangan pengelolahan fasilitas pendidikan.
E. Definisi Operasional
1. Pengertian Upaya
Upaya menurut kamus besar bahasa Indonesia ( KBBI) diartikan sebagai usaha kegiatan yang mengarahkan tenaga, pikiran untuk mencapai suatu tujuan. Upaya juga berarti usaha, akal, ikhtiar untuk mencapai suatu maksud, memecahkan persoalan mencari jalan keluar. [2]
2. Sarana dan prasarana
sarana pendidikan adalah alat langsung untuk mencapai tujuan pendidikan, misalnya: ruang, buku, perpustakaan, laboratorium, dan sebagainya.[3]
Menurut E. Mulyasa sarana pendidikan adalah peralatan dan perlengkapan yang secara langsung dipergunakan dan menunjang proses pendidikan, khususnya proses belajar mengajar, seperti gedung, ruang kelas, meja, kursi, serta alat-alat dan media pengajaran.[4]
3. Pengelolahan
Pengelolahan diartikan sama dengan manajemen. Pengelolahan berasal dari kata kelola yang dalam bahasa Inggris dikatakan “manage” yaitu mengelola atau mengatur. Menurut Malayu SP. Hasibuan, pengelolahan atau manajemen adalah ilmu dan seni mengatur proses pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber-sumber lainnya secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan tertentu.[5]
Menurut Luther Gulick dalam Agus Sabardi mendefinisikan ”manajemen sebagai suatu bidang pengetahuan, yang mencari secara sistematis untuk memahami mengapa dan bagaimana manusia bekerja bersama untuk mencapai tujuan dan membuat sistem kerjasama itu lebih bermanfaat bagi kemanusiaan.”[6]
4. Fasilitas
5. Pendidikan
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.[8]
F. Sistematika Pembahasan
Untuk memudahkan dalam memperoleh gambaran singkat tentang isi skripsi, dipaparkan secara rinci alur pembahasan sebagai berikut :
Bab I, Pendahuluan. Diuraikan tentang latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan dan kegunaan penelitian, definisi Operasional, dan sistematika pembahasan.
Bab II, Kajian teori yang berfungsi sebagai acuan teoritik dalam melakuan penelitian. Pada bab ini di jelaskan tentang Upaya Waka Sarpras Dalam Mengembangkan Pengelolahan Fasilitas Pendidikan di MTs. Nurul Huda Suci Sugio, penelitian yang relevan, dan kerangka berfikir.
Bab III, Mengemukakan metodelogi penelitian, yang berisi tentang jenis dan rancangan penelitian, sumber data, teknik pengumpulan data, teknik analisis data, pemeriksaan keabsaan data, dan tahap-tahap penelitian.
Bab IV, Hasil penelitian, yang berisi tentang gambaran umum subjek dan objek penelitian,penyajian data, analisis data, dan pembahasan.
Bab V, Mengemukakan tentang kesimpulan dan saran.
[1] Hasil wawancara dengan Bapak Atekan, Wakil Kepala Sekolah bidang Sarjana dan Prasarana, Pada hari Rabu,04 Maret 2018, Pukul 10.00 WIB, di Ruang Tamu MTs. Nurul Huda Suci.
[5] Agus Sabardi. (2001). Manajemen Pengantar (Edisi Revisi). Yogyakarta: Unit Penerbit dan Percetakan YKPN

Komentar
Posting Komentar